Skip to main content

Posts

Dear Rizky, Hari ini keadaan sedang tidak berpihak dengan kita. Entah aku yang salah atau memang waktu saja yang lagi-lagi kurang pas. Setiap kata yang terucap dari mulutku hanya membuatmu kesal dan kecewa. Aku hanya bisa terdiam, seraya merenungi apa-apa yang sudah ku katakan. Pembicaraan kita juga jadi aneh, seperti dua orang yang tidak saling kenal. Padahal hari ini banyak hal bahagia yang ingin ku bagi denganmu, ah sudahlah mungkin memang sebaiknya tidak kuceritakan dulu. Maafkan aku sayang, aku tidak seperti yang kau inginkan.
Recent posts

#5

Dear Rizky, Hari ini hari pertamaku di Mekkah, aku begitu bahagia bercampur rasa syukur karena bisa diberikan kesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah haram ini. Kamu memberikan aku beberapa wejangan aku senang kamu begitu. Hari ini juga aku melaksanakan ibadah umroh wajib, tak henti-hentinya aku berdoa. Salah satunya aku berdoa untukmu agar selalu dilindungi oleh Allah, apabila kamu memang benar-benar jodohku aku berharap kamu bisa menjadi imam yang baik untukku, kamu bisa membimbingku menuju surga-Nya dan menjadikanku istri yang sholehah. Aku juga berdoa agar setiap langkah yang kita ambil diberi kelancaran dan selalu di ridhoi-Nya dan banyak hal lagi yang ku sampaikan hibgga tak henti-hentinya air mata ini keluar. Dan mulai hari ini juga kita berdua belajar untuk menerima perbedaan waktu yang cukup membuat kita sulit untuk berkomunikasi. Ingat sayang, kita harus berjuang bersama ya..

#4

Dear Rizky, Pagi ini kamu membalas pesanku, pesan yang ku tuliskan semalam. Taukah kamu, aku sangat rindu, masih sedikit kecewa bahwa kenyataannya kamu pergi dan kita tidak bisa bertemu. Kamu terlalu sibuk disana, sampai-sampai kita hanya bisa berbicara sebentar saja. Lagi-lagi aku harus bersabar dan mengalah dengan waktu yang belum pas. Beberapa kali kamu mengajakku untuk telepon sebelum akhirnya aku terbang, tapi lagi-lagi hanya bisa sebentar. Tetap saja harus ku terima. Yaa pada akhirnya kita tetap berbalas pesan, sekedar memberikan kabarku saat ini. Memang waktu tidak selamanya berpihak dan kita harus belajar menerima bukan?

#3

Dear Rizky, Pagi ini kamu mengirim pesan bahwa kamu sudah dijalan menuju ke Jawa, aku kira semua itu bohong. Tapi tiba-tiba kamu share location, dan aku tersadar bahwa ternyata semua itu benar. Tadinya ku kira kamu tidak benar-benar pergi, tapi apalah aku yang hanya banyak berharap. Lagi-lagi aku harus menerima waktu yang tidak pas datangnya. Aku mencoba menerima keadaan dan membalas pesanmu dengan sebaik mungkin, seolah-olah aku tidak kecewa dengan keadaan. Aku tidak mau merusak harimu, jadi aku mengalah. Malam harinya, disaat kamu sudah tertidur ku tuliskan pesan yang tulus dari lubuk hatiku yang paling dalam untukmu. Dengan harapan, apabila kamu bangun nanti kamu bisa membaca pesanku itu. Ku tuliskan pesan itu sambil mengenang perjalan kita yang penuh lika-liku. Aku harap pesan itu kamu terima dan kamu resapi kedalah hati.

#2

Dear Rizky, Keesokan harinya, aku kembali membalas pesanmu yang semalam tidak ku balas karena aku sudah tidur. Seperti biasa kamu membalas pesanku dan memberi semangat agar aku semangat bekerja. Hari ini adalah hari terakhirku bekerja sebelum aku pergi umroh. Aku sangat berharap kita bisa bertemu, sebentar saja. Aku ingin berpamitan dan melihatmu. Aku kira kamu akan ke rumahku hari ini, namun mungkin itu hanya harapanku saja yang berlebihan. Jam 7 aku mendapat pesan darimu bahwa kamu sudah dirumah, aku senang kamu sudah dirumah. Itu artinya kamu bisa istirahat dan mungkin kita bisa berbincang-bincang sebentar. Tiba-tiba kamu bilang di telepon bahwa kamu kan pergi ke Jawa bersama saudaramu. Sebetulnya aku kecewa, karena lagi-lagi kita tidak bertemu. Bahkan disaat aku ingin pergi jauh, kamu malah ingin pergi. Namun semua itu ku tahan, karena aku tau kamu juga butuh hiburan dan aku tidak bisa memaksakan kamu untuk tetap tinggal sementara aku pergi. Jadi ku putuskan untuk kusimpan saja k...

#1

Dear Rizky, Hari ini seperti biasa aku membalas pesanmu yang semalam tidak ku baca karena aku sudah tidur. Kamu mengirimkan foto yang berisi list film yang ingin kita tonton bersama. Kamu balas pesanku dan bilang bahwa kamu rindu. Saat ini, kita sama-sama sibuk. Aku sibuk mempersiapkan untuk umroh dan kamu sibuk dengan pekerjaanmu. Namun kamu selalu menguatkanku untuk harus bisa sama-sama bertahan bagaimanapun keadaannya. Kamu bilang kalau ingin ke rumahku, sekedar bertemu sebelum aku berangkat. Namun lagi-lagi waktu tidak berpihak dengan kita, tiba-tiba kamu sakit dan tidak bisa pergi ke rumahku. Awalnya aku kecewa, namun aku juga mengerti dan menerima, mungkin memang waktunya saja yang belum pas. Lagi pula kesehatanmu jauh lebih penting. Sore tadi kamu mengirim pesan kembali, kalau kamu sudah dirumah, istirahat dan kembali bekerja. Aku sedikit marah karena kamu selalu memaksakan diri untuk bekerja. Bukan tidak mengerti, tapi aku tidak tega melihatmu yang sakit bekerja terus siang m...