Dear Rizky,
Pagi ini kamu mengirim pesan bahwa kamu sudah dijalan menuju ke Jawa, aku kira semua itu bohong. Tapi tiba-tiba kamu share location, dan aku tersadar bahwa ternyata semua itu benar. Tadinya ku kira kamu tidak benar-benar pergi, tapi apalah aku yang hanya banyak berharap. Lagi-lagi aku harus menerima waktu yang tidak pas datangnya. Aku mencoba menerima keadaan dan membalas pesanmu dengan sebaik mungkin, seolah-olah aku tidak kecewa dengan keadaan. Aku tidak mau merusak harimu, jadi aku mengalah. Malam harinya, disaat kamu sudah tertidur ku tuliskan pesan yang tulus dari lubuk hatiku yang paling dalam untukmu. Dengan harapan, apabila kamu bangun nanti kamu bisa membaca pesanku itu. Ku tuliskan pesan itu sambil mengenang perjalan kita yang penuh lika-liku. Aku harap pesan itu kamu terima dan kamu resapi kedalah hati.
Pagi ini kamu mengirim pesan bahwa kamu sudah dijalan menuju ke Jawa, aku kira semua itu bohong. Tapi tiba-tiba kamu share location, dan aku tersadar bahwa ternyata semua itu benar. Tadinya ku kira kamu tidak benar-benar pergi, tapi apalah aku yang hanya banyak berharap. Lagi-lagi aku harus menerima waktu yang tidak pas datangnya. Aku mencoba menerima keadaan dan membalas pesanmu dengan sebaik mungkin, seolah-olah aku tidak kecewa dengan keadaan. Aku tidak mau merusak harimu, jadi aku mengalah. Malam harinya, disaat kamu sudah tertidur ku tuliskan pesan yang tulus dari lubuk hatiku yang paling dalam untukmu. Dengan harapan, apabila kamu bangun nanti kamu bisa membaca pesanku itu. Ku tuliskan pesan itu sambil mengenang perjalan kita yang penuh lika-liku. Aku harap pesan itu kamu terima dan kamu resapi kedalah hati.
Comments
Post a Comment