Skip to main content

#3

Dear Rizky,

Pagi ini kamu mengirim pesan bahwa kamu sudah dijalan menuju ke Jawa, aku kira semua itu bohong. Tapi tiba-tiba kamu share location, dan aku tersadar bahwa ternyata semua itu benar. Tadinya ku kira kamu tidak benar-benar pergi, tapi apalah aku yang hanya banyak berharap. Lagi-lagi aku harus menerima waktu yang tidak pas datangnya. Aku mencoba menerima keadaan dan membalas pesanmu dengan sebaik mungkin, seolah-olah aku tidak kecewa dengan keadaan. Aku tidak mau merusak harimu, jadi aku mengalah. Malam harinya, disaat kamu sudah tertidur ku tuliskan pesan yang tulus dari lubuk hatiku yang paling dalam untukmu. Dengan harapan, apabila kamu bangun nanti kamu bisa membaca pesanku itu. Ku tuliskan pesan itu sambil mengenang perjalan kita yang penuh lika-liku. Aku harap pesan itu kamu terima dan kamu resapi kedalah hati.

Comments

Popular posts from this blog

#4

Dear Rizky, Pagi ini kamu membalas pesanku, pesan yang ku tuliskan semalam. Taukah kamu, aku sangat rindu, masih sedikit kecewa bahwa kenyataannya kamu pergi dan kita tidak bisa bertemu. Kamu terlalu sibuk disana, sampai-sampai kita hanya bisa berbicara sebentar saja. Lagi-lagi aku harus bersabar dan mengalah dengan waktu yang belum pas. Beberapa kali kamu mengajakku untuk telepon sebelum akhirnya aku terbang, tapi lagi-lagi hanya bisa sebentar. Tetap saja harus ku terima. Yaa pada akhirnya kita tetap berbalas pesan, sekedar memberikan kabarku saat ini. Memang waktu tidak selamanya berpihak dan kita harus belajar menerima bukan?